- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgement of the works authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journals published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).
Identifikasi Nilai Pedagogis Tarian Lulo untuk Memperkuat Rasa Persatuan pada Anak Usia Dini
DOI:
https://doi.org/10.31004/obsesi.v4i1.336Keywords:
kurikulum pendidian anak usia dini tarian lulo tradisi local tolakiAbstract
Penelitian ini mengidentifikasi nilai pedagogis tarian Lulo guna memperkuat karakter persatuan pada anak usia dini. Penelitian dilatarbelakangi oleh berita tentang banyaknya tindakan-tindakan kekerasan dan bullying di kalangan siswa, di mana anak-anak menjadi aktornya. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah nilai yang bisa menguatkan rasa kasih dan persatuan. Melalui pendekatan ethnography, peneliti melibatkan beberapa pihak sebagai sumber informasi, seperti: tokoh masyarakat, ahli kurikulum, administrator sekolah; kepala sekolah dan guru-guru (partisipan FGD). Dokumentasi dari observasi langsung untuk memberikan visual serta mengkonfirmasi data-data dari wawancara. Analisa data dilakukan sesuai prosedur analisa interkatif, analisa domain dan taksonomi Spradley. Peneliti menyimpulkan jika tarian lulo memenuhi prinsip-prinsip kurikulum untuk menjadi media dan atau input pembelajaran di pendidikan anak usia dini, karena tarian lulo berisi unsur kegiatan pikir, olah hati, olah rasa, karsa, serta olah raga dan mengandung nilai-nilai positif. Internalisasi tarian Lulo dalam kurikulum pendidikan membekali anak didik dengan nilai-nilai yang mengajarkan rasa persatuan, saling menghargai, cinta perdamaian, toleransi dan patuh terhadap aturan mutlak diperlukan. Penanaman semangat persatuan tersebut bisa dimulai sejak masa emas (golden age) anak yaitu pendidikan dasar dan usia dini. Di samping itu, kebijakan tersebut adalah upaya memelihara dan melestarikan budaya sebagai warisan yang berharga.
Downloads
References
Al Ashur, A. (1997). Tokoh dan Adat Budaya Tolaki. In Erlangga. Kendari.
Alexon. (2010). Pembelajaran terpadu berbasis budaya. Bengkulu: Unit FKIP UNIB Press.
Andina, E. Budaya Kekerasan Antar Anak di Sekolah Dasar. , VI Kajian Singkat terhadap Isu-Isu Terkini (2014).
Caprara, B. (2016). The Impact of Cultural Capital on Secondary Student’s Performance in Brazil. Universal Journal of Educational Research, 4(11), 2627–2635. https://doi.org/10.13189/ujer.2016.041116
Chukwbikem, P. E. I. (2013). Resources for Early Childhood Education (E.C.E). Mediterranean Journal of Social Sciences, 4(8), 161–172. https://doi.org/10.5901/mjss.2013.v4n8p161
Cresswell, J. W. (2012). Eduactional Research: Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research. In آب و خاک. New Jersey: Person Education, Inc.
Fajarini, U. (2014). Peranan Kearifan Lokal Dalam Pendidikan Karakter : Vol. 1, No. 2. Sosio Didaktika, 1(2). https://doi.org/10.15408/sd.v1i2.1225.
Fauziddin, M., & Mufarizuddin, M. (2018). Useful of Clap Hand Games for Optimalize Cogtivite Aspects in Early Childhood Education. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 2(2), 162. https://doi.org/10.31004/obsesi.v2i2.76
Folarin, S. F., & Olanrewaju, I. P. (2014). Cultural Plurality , National Integration and the Security Dilemma in Nigeria. Covenant University Journal of Politics and International Affairs, 2(1), 81–92.
Hanum, F. Pendidikan Multikultural sebagai Sarana Pembentuk Karakter Bangsa (Dalam Perspektif Sosiologi Pendidikan). In Makalah disampaikan pada Seminar Regional DIY-Jateng dan sekitarnya yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Universitas Nege. , (2009).
Istiana, Y. (2014). Konsep-Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Didaktika, 5(1), 329–333. https://doi.org/10.1101/112268
J, George & Die, S. (2011). Integrating Local Cultural Knowledge as Formaland Informal Education for Young African Learners: A Ghanaian Case Study. Canadian and International Education/Education Canadienneet International, 40(1), 48–56.
Jæger, M. M. (2011). Does Cultural Capital Really Affect Academic Achievement? New Evidence from Combined Sibling and Panel Data. Sociology of Education, 84(4), 281–298. https://doi.org/10.1177/0038040711417010
Juanda, J. (2019). Pendidikan Karakter Anak Usia Dini melalui Sastra Klasik Fabel Versi Daring. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(1), 39. https://doi.org/10.31004/obsesi.v3i1.126
Kementrian Pendidikan Nasional. (2011). Panduan Pengembangan dan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum.
Lapasoro, A. (2014). Kajian Semantik Tuturan Mombesara pada Pelaksanaan Upacara Adat Suku Tolaki. Kendari: Universitas Haluoleo.
Lareau, A., & Weininger, E. B. (2003). Cultural Capital in Educational Research: A Critical Assessment. Theory and Society, 32(5/6). https://doi.org/10.1023/B:RYSO.0000004951.04408.b0.
Mulyasa, E. (2002). Kurikulum Berbasis Kompetensi. In Depdiknas. Bandung: Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nasir, N. (2013). Pengembangan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Lokal. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Nasir, N., Mujiati, M., & Asrul, A. (2019). SAMATURU: Menstimulasi Spirit Kolaborasi Guru untuk Melaksanakan Lesson Study. Edum Journal, 2(2), 120–132. https://doi.org/10.31943/edumjournal.v2i2.49
Obanya, P. (2005). Culture-In-Education and Education-In-Culture. Fifth Conference of African Ministers of Culture 10-14 December 2005 Nairobi, Kenya. Culture-In-Education and Education-In-Culture. Fifth Conference of African Ministers of Culture 10-14 December 2005 Nairobi, Kenya, 7(3), 133–145. https://doi.org/10.17265/2159
Pekajová, Lívia & Novosák, J. (2010). The goals of education. Local Culture in the Era of Globalisation: Focused on the Zlín Region. In Beyond Globalisation: Exploring the Limits of Globalisation in the Regional Context (Conference Proceedings), 169-176. Ostrava: University Oity of Ostrava Czech Republic, 2010., 88(4), 264–272.
Perkins, E. A., & Taylor, P. D. (2009). Learning Through Play. Journal of the Institute of Mental Subnormality (APEX), 4(1), 34–34. https://doi.org/10.1111/j.1468-3156.1976.tb00222.x
Raharjo, S. B. (2010). Pendidikan Karakter Sebagai Upaya Menciptakan Akhlak Mulia. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 16(3), 229–238. https://doi.org/10.24832/jpnk.v16i3.456.
Syam, F. (2011). Dilema Pluralitas: Hambatan Atau Penguatan Demokrasi Bangsa Indonesia? Jurnal Ilmu Hukum, 11(2), 10–14. https://doi.org/10.16194/j.cnki.31-1059/g4.2011.07.016
Tatman, Robert, Stacey Edmonson, J. R. S. (2009). Character Education: An Historical Overview. National Council of Professors of Educational Administration, 4(1).

